Cerita di Kereta
Naik mutsel bisnis ke Yk, sebelahku seorang bapak yang sejak awal menarik perhatianku: baju, sendal sampai topi serba hitam. Orangnya sangat sopan dan sangat ramah. Pertama ngajak ngobrol –uuuh aku paling ga suka ngobrol ama stranger di perjalanan– basa-basi trus sedikit-sedikit mulai ada ceritanya. Ceritanya unik juga. Dia ke Bandung kali ini setelah bertahun-tahun lamanya dia tunda –padahal kemudian aku tahu kalau kerjaannya jalan-jalan melulu–. Tujuannya untuk bertemu teman yang sudah dua puluh tahun tidak dia jumpai. Waktu dia sampai di rumah temannya ini, ternyata rumahnya sudah dikontrakkan dan pengontraknya bilang temannya ini sudah meninggal lima tahun yang lalu, ups.
Karena aku males ngobrol di perjalanan aku mulai dengerin lagu sambil baca buku. Eeeeh… tapi adaaa saja caranya dia ngajak ngobrol aku. Ya sudah, aku tanggapi saja. Karena aku males ditanya-tanya maka aku mengambil posisi sebagai penanya, he he. Sedikit-sedikit akhirnya kebayang juga soal kerjaan si Bapak. Dia trainer bidang heavy equipment. Yang minta ditraining orang-orang lapangan di pertambangan. Karena trainingnya di lapangan juga, jadilah si Bapak ini menurut istilah ams: sudah bhinneka tunggal ika, he he dari Lhokseumawe sampai Tembagapura pernah dia singgahi. Sempat aku tanya2in macem2 dan kesimpulannya adalah: training itu sangat mungkin untuk dibisniskan dan untuk bisa jadi trainer yang penting adalah bagaimana caranya biar bisa lebih tahu daripada orang lain. Caranya? Ya, belajar.
Ujung-ujungnya si Bapak malah jadi membujuk-bujuk aku biar nyoba-nyoba masuk oil company. "Nyoba Schlumberger aja… bla bla bla" - "Oh ya Pak tapi bla bla bla"–aku cerita soal kisah audisi flashlight ku ha ha– "Ya udah, kalau Total pernah dicoba? Unocal? Klo di Unocal tu bla bla bla. Atau mau di Caltex?" Ups, aku males nyeritain berbagai pertimbanganku jadi aku senyum-senyum aja.
Dah, aku baca buku lagi. Diam agak lama. Trus tau-tau… "Belajar safety aja Dik" - "Hah, soal apa itu Pak?" - "Soal bla bla bla, perusahaan2 minyak di Indonesia masih kekurangan safety engineer, klo jadi safety engineer bla bla bla" - "Oh ya, ya… ya deh"
Umm, asyik juga ngobrol ama stranger yang satu ini. Klo saja si Bapak ketemu aku waktu aku lebih muda, mungkin ngobrolnya bisa semalaman, he he seperti yang pernah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Tapi kayaknya aku udah ga kuat lagi melek semalaman apalagi besoknya udah ada rencana. Lagipula jarak usia kami terlalu jauh–usianya sudah limapuluhan– jadi ga enak buat ledek2an :P.
Karena teknik denger musik dan baca buku nggak berhasil, aku akhirnya berusaha untuk tidur. Sialnya… keretanya berhenti-berhenti melulu. Dan aku kesenggol2 orang yang lewat terus… Si Bapak sampai ngeledekin "Mana bisa tidur…" Huee… ya sudah, ngobrol lagi… Kali ini dia ngasih aku alternatif buat jadi dosen, he he, ya ya yaaawn–netty bgt sih–. Lalu ngobrol lagi dan lagi sampai suatu ketika si Bapak bilang "Apakah keberatan kalau saya merokok" dan aku terkejut waktu aku dengan spontan bilang "Enggak". Waaa.. aku paling ga suka ada asap rokok di dekatku.. tapi kenapa aku bilang enggak? Mungkin karena saking sopannya si Bapak meminta. Biasanya juga… mana ada orang yang minta ijin dulu sebelum ngerokok. Atau karena saking sukanya aku ama si Bapak itu. Entahlah, yang jelas habis itu aku nyesel dan sibuk bertanya-tanya sendiri sampai akhirnya ketiduran he he he. Yah, ambil sisi terangnya aja lah, akhirnya aku bisa tidur juga. Setelah itu aku tidur terus, klo terbangun paling2 berusaha untuk tidur lagi, hue he, padahal si Bapak kadang ngomong sendiri, mancing aku untuk ngomentarin.. tapi kubiarin aja… kan ngantuk…
Mungkin karena merasa dicuekin dia akhirnya pergi… ga tau nyari teman ngobrol di mana lagi ha ha. Balik-balik ke bangku udah hampir nyampe Yk. Agak merasa bersalah juga aku karena nyuekin dia. Sampai-sampai waktu aku mo turun dan bilang makasih atas cerita-ceritanya, si Bapak agak terkejut hue he. Mungkin ga mengira orang yg sepertinya keganggu ama cerita2nya ternyata bilang terimakasih karena dicerita2in.
Keesokannya, aku cerita ke ams, dan ams nanya: "Minta kartu namanya gak?"
Ups, mana bisa? Klo aku minta kartu nama sebelum aku tidur aku lebih ga enak lagi buat ninggal tidur. Klo aku minta kartu nama setelah aku tidur, sopan ga sih?
October 16th, 2005 at 2:52 am
sopan bangettt lagi mbak,,, huehehehehh lucu2 ceritanya,,,