Beauty Case: kok gitu ya …
Berbulan-bulan yang lalu aku nyobain baca yang disebut-sebut sebagai "chicklit buatan Indonesia asli" berjudul Cintapuchino. He he, chicklit-ku yang pertama. Tertarik untuk baca pertama karena liat penulisnya dari ITB, so what? Ya
gak tau, he he, huh ga jelas gini ya… Uhm, mungkin karena penasaran,
pengin tau kalau anak ITB nulis cerita jadinya kayak apa? –emangnya bisa digeneralisir? huh memang alasan yang aneh!!–
Kedua, karena pengin nyobain baca chicklit.
Ternyata lumayan juga ceritanya. Ada lucunya, ada sedihnya, ada ngeselinnya. Mungkin kalau dulu SMA-ku di Bandung bakalan lebih kena ya… Habis, di SMA-ku –di Yogya– dulu ga ada tu yang namanya unit Keamanan eh atau apalah itu istilahnya. Ada sih razia… tapi nggak terlalu sering. Dan pelakunya juga
bukan anggota UNIT tertentu. Kalau ngga salah cuma sebagian pengurus
OSIS… nggak sampai dijadiin unit segala. Terus mereka juga nggak
belagu, paling ngerazia-nya sambil ketawa-ketawa… abis ama temen
sendiri ini…
Eh sudah, bukan itu sebenarnya yang mau dibahas.
Ceritanya, aku kemarin nyobain ke toko buku TGA di Ciwalk. Toko buku
apa tu? Dari namanya kayaknya keren gitu… padahal Toko Gunung Agung
biasa… hi hi. Tapi emang lebih gimanaa gitu daripada yang di BIP.
Lebih lapang, lebih lengkap bukunya, lebih rapi, lebih bersih… ya
namanya juga baru, dari rak, tempat kasir, bangku–o ya, ada bangkunya…asyik–, sampai ke buku-bukunya… semuanya serba kinclong.
Trus ketemulah aku sama buku itu, Beauty Case by Icha
Rahmanti, si penulis Cintapuchino itu. Pernah liat sih di Gramedia,
tapi diplastikin. Di TGA kemarin ada satu yang tidak diplastikin…
dan… ada bangku…
. Ngintip ah… Oh bukunya secara fisik lebih bagus dari Cintapuchino. Kertasnya lebih bagus.
Baca dikit dalemnya, duh.. kok bahasanya gitu banget ya. Kata-kata
yang dipake di salah satu dialognya tu lo… kasar-kasar, kayak
monyet… monyong… pahanya menggelambir… toket besar… dll, dan 2
kata terakhir tu untuk ngrasani orang lain. Obrolan yang kayak
gitu mungkin memang ada, dan mungkin ada di mana-mana… tapi kan ga
semua cewek cara ngomongnya gitu. Alasan Icha mengambil sisi itu apa
ya? Itu gambaran cewek yang gimana sih? Yang kosmopolitan? Yang gaul?
Yang penting? Kenapa harus yang gitu… Biar seru? Biar lucu? Atau cuma biar terkesan beda? berani?
Nah, kecurigaan pada 2 alasan terakhir ini yang bikin aku ga sreg. Aku
terlalu mengaitkan ama realita sih… he he, chicklit gitu lo. Klo
kata-kata itu ada di genre yang lain mungkin tak akan terkesan aneh.
Hue… aku ga suka orang yang suka nge-judge tapi kok aku kedengeran nge-judge gini sih, hi hi. Lagian belum baca seluruhnya.
So, mau baca seluruhnya? Entahlah, aku jadi males.![]()