Greatest Blunders

Belakangan kalau jalan-jalan ke Gramedia, ada satu tempat yang
selalu aku cermati: buku-buku yang didiskon up to 70% dari Java Books.
Murah-murah banget jeh, sampai .
Minggu kemarin kulihat sederetan buku-buku tentang the most something,
the greatest something, the biggest something. Dari sekian banyak buku,
aku paling tertarik pada The Greatest Blunders, berharap menemukan
hal-hal yang lucu-lucu di sana. Ternyata emang ada yang lucu… tapi
ada juga yang sedih…

Yang lucu misalnya tentang seseorang yang mau mecahin rekor melakukan
sesuatu(aku lupa) selama 400 hari. Selama dia berusaha memecahkan rekor
itu, perusahaan yang mensponsorinya bangkrut, trus pacarnya milih cowok
lain, trus waktu dia balik ternyata masih kurang 2 hari lagi untuk
memecahkan rekor. Tragis sih, tapi lucu juga.

Yang sedih misalnya tentang seseorang yang berhasil menjadi pilot
perempuan pertama yang terbang dari British sampai Australia… Tapi
dia meninggal di usia muda (26) karena kesalahan-kesalahan yang
seharusnya tidak dilakukan penerbang profesional: kurang bahan bakar,
mendarat di tempat yang salah, dll.

Aku sendiri suka menertawakan blunder yang kulakukan, .
Ada yang memang konyol ada juga yang waktu mengalaminya aku ngerasa
sedih, kecewa tapi setelah beberapa lama… tak ada lagi yang bisa
dilakukan selain menertawakan diri sendiri.
Blunder yang sering
kulakukan: aku bersemangat menceritakan sesuatu dengan penuh semangat
ke m Raul tapi ternyata reaksi dia datar-datar saja karena dia sendiri
udah pernah baca/nonton dari tempat lain bahkan tahu lebih detail,
hiks, sedih. Trus juga: ngeyel, ngotot tapi baru kemudian aku tahu
bahwa aku yang salah

Yang termasuk greatest blunderku… uhm… lucu2, eh sebenernya
tolol ding. Misal sok tahu jalan, untuk pergi dari X ke Y aku memilih
suatu jalan yang belum pernah aku lewati tapi rasa-rasanya
bakalan lebih dekat, lewatlah aku di jalan itu dengan berjalan kaki dan
ternyata bukannya jalan pintas tapi jalan yang muter-muter ga karuan,
waa sampai sekarang masih inget pegelnya.

Trus menyapa orang:"Hai!!" dengan akrabnya, dan ditanggapi orang itu
dengan pasang tampang aneh karena ternyata orang itu hanya orang yang
mirip dengan temanku –yang tak terlalu akrab

Trus… aku pernah satu angkot sama anak-anak Mesin yang tidak kukenal, waktu mereka
ngumpulin uang untuk bayar angkot secara kolektif, aku setengah sadar
ikutan ngasih uang… Mereka ketawa-ketawa, dan aku pura-pura ngga
terjadi apa-apa.
He he he, itu belum terlalu greatest sih tapi itu sih yang bisa diceritain tanpa ngomongin orang lain.

So, what is your greatest blunder?

Leave a Reply